ACCESSIONS RELATIONSHIP OF PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb.) BASED ON MORPHOLOGICAL CHARACTERS Hubungan Fenetik Aksesi Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) Berdasarkan Karakter Morfologi

Harto Widodo, Azizatur Rahmah, Rina Sri Kasiamdari

ACCESSIONS RELATIONSHIP OF PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb.) BASED ON MORPHOLOGICAL CHARACTERS Hubungan Fenetik Aksesi Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) Berdasarkan Karakter Morfologi

Abstract


ABSTRACTPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) is an Indonesian plant which has medicinal properties for aphrodisiac, diuretic and tonic. This plant grows only in high attitude area between 1,800 to 3,500 meters above sea level at the certain mountains of Java Island, i.e. Mount Semeru, Dieng plateau, and mount Pangrango. Nowadays it is hard to find P. pruatjan grows wildly, due to its high extinction. Convention on International Trading in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) categorized purwoceng as endangered and nearly extinct (appendix 1). At least six accessions of cultivated P. pruatjan in Mount Lawu were found which are different from their ancestor from Dieng Plateau. Considering the high potential and conservation concern of the plant, the preliminary research was conducted to study the relationship of P. pruatjan collected from four reported growth locations based on morphological features. Ninety one of characters were examined for 13 accessions i.e. two accessions from Ranu Pani BTSNP-mount Semeru (RP1 and RP2); six accessions from Mount Lawu (GL1, GL2, GL3, GL3, GL4, GL5 and GL6); three accessions from Dieng Plateau (GD1, GD2 and GD3); and two accessions from Mount Putri (GP1 and GP2). The data were analyzed using MVSP 3.1 software and UPGMA algorithm was utilized to generate dendogram. The result showed that all accession have simple matching coefficient (SSM) >82% They formed three groups with SSM>91%, the first group consisted of all accessions from Mount Lawu and accessions from Mount Putri, the second group consisted of accessions from Dieng Plateau, whereas accessions from RanuPaniTBSNP-Mount Semeru clustered into the third group

 

ABSTRAK Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) merupakan tanaman Indonesia yang memiliki khasiat sebagai afrodisiak, diuretik dan tonik. Menurut beberapa literatur, tanaman purwoceng tumbuh hanya di daerah dataran tinggi, mulai 1.800 sampai 3.500 meter dpl di pegunungan tertentu di Pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru, dataran tinggi Dieng, dan gunung Pangrango. Saat ini sulit untuk menemukan purwoceng di alam liar, bahkan di gunung Pangrango dilaporkan spesies ini telah punah. Tanaman ini terdaftar sebagai spesies yang terancam punah dan hampir punah (Lampiran I) oleh Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Liar Flora dan Fauna (CITES). Setidaknya terdapat enam aksesi purwoceng yang telah dibudidayakan di Gunung Lawu telah ditemukan yang berbeda dari tetuanya dari Dataran Tinggi Dieng. Mengingat potensi yang sangat tinggi sekaligus untuk konservasi tanaman, penelitian pendahuluan dilakukan untuk mempelajari hubungan purwoceng yang dikumpulkan dari empat tempat tumbuh pada fitur morfologi. Total terdapat 91 karakter yang diperiksa dari 13 aksesi yaitu dua aksesi diperoleh dari Ranupani BTSNP Semeru (RP1 dan RP2); enam aksesi dari Gunung Lawu (GL1, GL2, GL3, GL3, GL4, GL5 dan GL6); tiga aksesi dari Dataran Tinggi Dieng (GD1, GD2 dan GD3); dan dua aksesi dari Gunung Putri (GP1 dan GP2). Data dianalisis dengan menggunakan MVSP 3.1 software dan algoritma UPGMA dipergunakan untuk menghasilkan dendogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aksesi memiliki koefisien sederhana pencocokan (SSM)> 82%. Mereka membentuk tiga kelompok dengan SSM> 91%, kelompok pertama terdiri dari semua aksesi dari Gunung Lawu dan aksesi dari Gunung Putri, kelompok kedua terdiri dari aksesi dari Dataran Tinggi Dieng, sedangkan aksesi dari RanuPani TBSNP-Gunung Semeru dikelompokkan ke dalam kelompok ketiga.


Keywords


Pimpinella pruatjan Molkenb, morfologi, aksesi.

References


Becker DSC.and Van De Brink RCB.1963. Flora

of Java (Spermatophytes Only). N.V.P. Noordhoff -Groningen-The Netherlands. p:176

Caropeboka AM. 1980. Pengaruh ekstrak akar

Pimpinella alpina Koord. Terhadap sistem reproduksi tikus. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. p 73

Darwati I. dan Roostika I. 2006. Status

penelitian purwoceng di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah, 12(1):9-15.

Douglas DA.1981. The balance between

vegetative and sexual reproduction of Mimulus primuloides (Scropholariaceae) at different altitudes in California. Journal of Ecology, 69: 295-310.

Heyne K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia.

Jilid III. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

Hidayat S. and Risna R. 2007. Kajian Ekologi

Tumbuhan Obat Langka di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Biodiversitas, 8(3): 169-173

Jones SBJr. & Luchsinger A. 1986. Plant

Systematics. McGraw-Hill Book Company. New York. P 587.

Judd WS., Campbell CS., Kellogg EA., Stevens

PF. 1999. Plant Systematic, A Phylogenetic Approach. Sinauer Associates, Inc. Massachusetts U.S.A. 464p.

Lawrence GHM.1955. An Introduction to Plant

Taxonomy. The Macmillan Company. New York. p:15-17.

Parthasarathy U. 2010. Intra Species Diversity

Influenced By Environment. Proceeding of the National Seminar on Soil, Water, and Crop Management for Higher Productivity of Species. India. p:136-146.

Harto Widodo*, Azizatur Rahmah**, Rina Sri Kasiamdari**

Volume 7, No.2, Desember 2015

Pollard AJ. 1986. Variation in Cnidoscolus

texanus in relation to herbivory. Oecologia, 70: 411-413.

Pujiasmanto B., Moenandir J., Syamsulbahri

& Kuswanto. 2007. Kajian Argoekologi dan Morfologi Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) pada Berbagai Habitat. Biodiversitas, 8(4):326-329.

Rahardjo M. 2005. Purwoceng Budidaya dan

Pemanfaatan untuk Obat Perkasa Pria. Cetakan I, Penebar Swadaya, Depok. Pp:59.

Stenstorm A., Jonsdottir IS. and Augner M.

Genetic and Environmental Effects on Morphology in Clonal Sedges in the Eurasian Arctic. American Journal of Botany, 89(9):1410-1421.

Vince Ö. and Zoltán M. 2011. Plant Physiology,

Plant stress physiology. Pannon Egyetem http://www.tankonyvtar.hu/en/tartalom/tamop425/0010_1A_Book_angol_ 01_novenyelettan/ch04s05.html. Accessed: 28-May-2014

Wahyuni S. 2009. Evaluasi karakter morfologi

purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) generasi M1 hasil induksi mutasi sinar gamma di Cicurug dan Cibadak. Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Widodo H., Widayat T., Subositi D. 2011.

Standarisasi Tanaman Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) sebagai Bahan Baku Obat Afrodisiaka, Sub Judul: Karakterisasi Genetik dan Kajian Teknik Budidaya Tanaman Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.). Laporan Akhir Penelitian. Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Obat Dan Obat Tradisional. (Unpublished)

Zhang Y., Mian MAR, Chekhovskiy K., So S.,

Kupfer D., Lai H. & Roe BA. 2005. Differential gene expression in Festuca under heat stress conditions. J Exp. Bot., 56(413): 897-907.

Zhao K., Zhou MQ. & Chen LQ. 2007. Genetic

diversity and discrimination of Chimonanthus praecox L. Link germplasm using ISSR and RAPD markers. Hort. Science, 42(5): 1144-1148.

ACCESSIONS RELATIONSHIP OF PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb.) BASED ON MORPHOLOGICAL CHARACTERS

Hubungan Fenetik Aksesi Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.)

Berdasarkan Karakter Morfologi


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (Journal of  Indonesian Medicinal Plant, p-ISSN : 1979-892X, e-ISSN : 2354-8797) is published by Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Indexed by:

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor number: View My Stats