PENGARUH PUPUK KANDANG DAN CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR (CMA) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PURWOCENG (PIMPINELLA PRUATJAN MOLKENB)

Yuli Widiastuti, Martinus Surya Prayitna, Samanhudi Samanhudi

PENGARUH PUPUK KANDANG DAN CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR (CMA) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PURWOCENG (PIMPINELLA PRUATJAN MOLKENB)

Abstract


Purwoceng is one of commercial medicinal-functioned plant originated in Indonesia. The descend compound of saponin, alkaloid, and tannin contained in the root of purwoceng characterized as freshener and tonic. Nowadays, the population of purwoceng becomes rare due to the large exploitation. Based on the erosion levels, purwoceng is categorized as an almost-extinct species. To avoid the extinction, conservation through proper cultivation has to be done.
The purpose of this research was obtaining the dosage of catt1e manure and kind of Arbuscular Mycorrhyzae (AM) on increasing the growth of purwoceng. The research was conducted in B2P2TO¬OT research garden located in village of Tlogodlingo, Sub district of Tawangmangu from july 2009 until January 2010. Design used in the research was Randomized Completely Design (RCD), consist of two factors of treatment with three replications. The first factor was dosage of cattle manure consisted of four levels, were 0, 10, 20, and 30 tons/ha. The second factor was kind of Arbuscular Mycorrhyzae (AM) consisted of three levels, were without mychorhyzae, Glomus sp. and kind of Schleroderma sp.
The results showed that the treatment without cattle manure application gave the highest yield average in petiole length variable (18,53 cm), number of petiole (14,6), leaf area (8,71 cm/), root length (11,23 cm) and root volume (1,42 cm"). Arbuscular Mycorrhizae showed significantly different results only on the variable percentage of root infection with an average of 39,99 % of infection, whereas kind of ScIerodenna sp. not infect the root pUlWoceng. Agroclimate condition in Tawangmangu is suitable enough for conservation of purwoceng.

Abstrak

Purwoceng merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang bernilai komersial. Senyawa aktif yang terkandung dalam akar purwoceng berupa saponin, alkaloid dan tanin beserta turunannya umumnya digunakan sebagai penyegar dan tonik. Saat ini, populasi purwoceng menjadi langka karena eksploitasi yang sangat besar. Berdasarkan tingkat erosi, purwoceng dikategorikan sebagai spesies yang hampir punah. Untuk
menghindari kepunahan maka konservasi melalui budidaya yang tepat harus dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan dosis pupuk kandang dan jenis Arbuskular Mycorrhyzae (AM) dalam meningkatkan pertumbuhan purwoceng. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) di Tlogodlingo, Tawangmangu dari Juli 2009 sampai Januari 2010. Desain yang digunakan dalam penelitian Acak Lengkap Desain (RCD) terdiri dari dua faktor perlakuan dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang terdiri dari empat tingkat, yaitu 0, 10, 20, dan 30 ton/ha. Faktor kedua adalah jenis Arbuskular Mycorrhyzae (AM) terdiri dari tiga tingkat yaitu tanpa mychorhyzae, jenis Glomus sp. dan jenis Schleroderma sp. Hasil penelitian menunjukkan persentase purwoceng yang hidup di Tlogodlingo dengan kombinasi dosis pupuk kandang dan jenis mikoriza adalah 88,89 %. Perlakuan tanpa pemberian pupuk kandang memberikan hasil rata-rata tertinggi dalam variabel panjang tangkai daun (18,53 cm), jumlah tangkai daun (14,6), luas daun (8,71 cm2), panjang akar (11,23 cm) dan volume akar (1,42 cm3). Arbuskular Mikoriza menunjukkan hasil yang berbeda nyata hanya pada persentase variabel infeksi akar dengan rata-rata 39,99 % dari infeksi, sedangkan jenis Scleroderma sp. Tidak mampu menginfeksi akar purwoceng. Kondisi agroklimat di Tlogodlingo Kecamatan Tawangmangu cukup cocok untuk konservasi purwoceng.


Keywords


purwoceng, mikoriza arbuskular

References


REFERENCES

Anonim. 1997. Index Tanaman Obat Indonesia. PT. Eisai. Jakarta

Anonim. 1998. Asean Herbal Standard.

Hernani dan Yuliani S. 1990. Obat-obatan aprodisiak yang bersumber dari bahan alami. Prosiding Seminar Pelestarian Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dari Hutan Tropis Indonesia,

Fak. Kehutanan IPB. Bogor.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Vol II. Badan Litbang Kehutanan. Departemen

Kehutanan. Bogor.

Notohadiprawiro, T. 2006. Asas dan Tujuan Analisis Tanah, Air dan Jaringan Tanaman dalam Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Rahardjo, M., dan Rostiana O. 2006. Budidaya Tanaman Obat Langka Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.). Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pengembangan Tanaman Obat Menuju Kemandirian Masyarakat dalam Pengobatan Keluarga.

Jakarta. Hal. 138-146.

Rahardjo, M., Rostiana, dan Darwati I. 2006. Pengaruh Pemupukan Terhadap Produksi dan Mutu Simplisia Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.). Jurnal Penelitian Tanaman

Industri. 12(2): 73-79.

Santoso B., Haryanti F, dan Kadarsih SA. 2005. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Ayam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Serat Tiga Klon Rami di Lahan Aluvial Malang. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. Malang.

Sukarno, N. 1999. Pewarnaan Akar untuk Pengamatan Kolonisasi CMA. Makalah Workshop Aplikasi CMA Pada Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan. 27 September- 2 Oktober 1999. Bogor.

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah: Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gaya Media. Yogyakarta.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (Journal of  Indonesian Medicinal Plant, p-ISSN : 1979-892X, e-ISSN : 2354-8797) is published by Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Indexed by:

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor number: View My Stats