PROGRESS RESEARCH OF TEMOELAWAK (CURCUMA XANTHORRIZA ROXB.) TO PROVIDE HEALTHY PLANTING MATERIAL BY IN VITRO CULTURE

Endang Hadipoentyanti, Sitti Fatimah Syahid

PROGRESS RESEARCH OF TEMOELAWAK (CURCUMA XANTHORRIZA ROXB.) TO PROVIDE HEALTHY PLANTING MATERIAL BY IN VITRO CULTURE

Abstract


Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) merupakan salah satu tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan. Rimpang tanaman mengandung amilum, protein, minyak atsiri, kurkumin dan selulosa. Untuk mendukung pengembangan tanaman obat, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) telah melakukan beberapa penelitian temoelawak menggunakan kultur jaringan tumbuhan untuk menyiapkan bibit unggul. Penelitian dilakukan bulan Januari 2002-Januari 2007. Cara kerja dalam penelitian ini adalah: 1) menyiapkan
plantlet yang sehat menggunakan kultur jaringan, 2) aklimatisasi plantlet di rumah kaca, 3) observasi pertumbuhan dan produksi temoelawak hasil kultur jaringan, 4) efek berat rimpang pada pertumbuhan dan produksi temoelawak hasil kultur jaringan pada generasi pertama, 5) respon generasi kedua temoelawak hasil kultur
jaringan terhadap pemupukan, 6) efek plactoburazol pada pertumbuhan temoelawak selama konservasi kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Medium terbaik untuk menghasilkan tunas sehat adalah MS + BA 1,5 mg/l, 2) plantlet hasil kultur jaringan tumbuh baik pada campuran tanah dan arang sekam (1:1) di rumah kaca, 3) prosentase pertumbuhan tanaman 100% selama 10 bulan, pertumbuhan dan penampakan rimpang mirip dengan indukan, 4) produksi rimpang tertinggi oleh rimpang yang besar sebagai sumber bahan, 5) pemupukan tidak berpengaruh signifikan meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan diameter rimpang bila dibandingkan dengan kontrol, tetapi menunjukkan peningkatan signifikan pada lebar daun, batang semu, berat, panjang, lebar dan jumlah rimpang utama. Kandungan kurkumin tertinggi
ditunjukkan pada perlakuan tanpa pemupukan, 6) paclobutrazol 3 mg/l mampu menurunkan pertumbuhan tanaman selama 7 bulan pada periode konservasi. Kultur dapat beregenerasi normal setelah dipindahkan pada medium multiplikasi. Teknik ini dapat diaplikasikan untuk memperpanjang kultur konservasi.

Abstract

Temoelawak (Curcuma xaruborrbiza Roxb) is one of medicinal crop which is potential to be developed. Plant rhizome contain starch, protein, fixed oil, curcumin and cellulose. In order to support the development of medicinal crops, Indonesian Medicinal and Aromatie Crops Research Institute (IMACRI) has condueted several research of temoelawak using i n vitro culture related to prepare of the healthy planting material. The experiments was condueted from January 2002 to january 2007. The research contains six steps i.e: 1) Preparing the healthy plantlet by in vitro culture,2) Acclimatization of plantlet at the green house, 3) Observation on growth and production of temoelawak from in vitro culture, 4) The effeet of rhizome weight on growth and production of ternoelawak from in vitro rhizome at the first generation, 5) Response of the second generation of temoelawak derived from in vitro culture on fertilizer and 6) The effect of paclobutrazol on the growth of temoelawak during in vitro conservation. The result show that: 1) The best medium to produce the healthy shoots in vitro was MS + BA 15 mg! 1. 2) The plantlet from in vitro culture grew well on the mixture of soil and ashes husk (L: 1) at the green house. 3) The growth percentage of plant were 100% on ten months.The growth and rhizorne performance were similar with the parent. 4) The highest rhizome produced by the weighty rhizome as a source planting material. 5) Fertilizer treatment did not significantly increase the number of tiller, plant height, leaf number, length and rhizome diameter compared with control, but significantly increase the leaf width, stem coll, weight, length, width and the number of main rhizome. The highest curcumin content was performed by without fertilizer. 6) Paclobutrazol at 3.0 mg/l could reduce the plant growth during seven months in conservation period. Culture can regenerate normally after transferring into the multiplication medium. The technique can be applied to prolong the conservation culture.


Keywords


Curcuma xanthorrhiza Roxb, kultur jaringan

References


REFERENCES

Bhojwani SS., and Razdan MK. 1983. Plant Tissue Culture. Theory and Practice. Elsevier Scientific Publ Co, Amsterdam. 502 p.

Hadipoentyanti E. dan Syahid SF. 2001. Pertumbuhan dan produksi rimpang temulawak di polibag yang benihnya hasil kultur in vitro. Jurnal Biologi Indonesia. 3(2) : 118-125.

Hernani. 2001. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb), Tumbuhan obat Indonesia. Penggunaan dan khasiatnya. Pustaka Popular Obor. Jakarta p. 130-132.

Nurjanah N., Yuliani S., dan Sembiring AB. 1994. Temoelawak (Curcuma xanthorrhiza). Edsus Littro, X (2): 43-57.

Prawiranata, Harran WS., dan Tjondronegoro P. 1981. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Departemen Botani, Fak. Pertanian, IPB. Bogor.

Purnomowati S., dan Yoganingrum A. 1997. Temulawak

(Curcuma xanthorhiza Roxb.). Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, LIPI, Jakarta. 44 hal.

Raharjo M. dan Rostiana O. 2003. Standar Prosedur Operasional Budidaya Temu Lawak. Cirkular No.8. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balittro, Bogor, hal 33-38.

Setyono RT. dan Ajijah N. 2002. Evaluasi beberapa sifat agronomi plasma nutfah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat XIII

(2): 7-12.

Suryati, A. 1985. Berbagai macam penggunaan temulawak dalam makanan dan minuman. Proseding Simposium Nasional Temulawak. tanggal 17 September 1985. Universitas Pajajaran Bandung. P. 186-194.

Syahid SF., Amalia C., Syukur dan Bermawie N. 1999. Pengaruh fisik media dan konsentrasi benzyl adenin terhadap pertumbuhan

kunyit (Curcuma domestica) secara in vitro. Journal Ilmiah Gakuryoku, VI(1): 13-15.

Taryono EM., Rahmat S., dan Sardina A. 1987. Plasma nutfah tanaman temu-temuan. Edsus Littro, 3(1): 47-56


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (Journal of  Indonesian Medicinal Plant, p-ISSN : 1979-892X, e-ISSN : 2354-8797) is published by Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Indexed by:

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor number: View My Stats