PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP PERUBAHAN FISIKOKIMIA DAUN KUMIS KUCING (Orthosipon stamineus Benth)

Sutjipto Sutjipto, Wahyu J. P., Yuli Widiyastuti

PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP PERUBAHAN FISIKOKIMIA DAUN KUMIS KUCING (Orthosipon stamineus Benth)

Abstract


Java tea (Orthosipon stamineus Benth.) has been one of medicinal plants used for diuretic since hundreds years ago. The colour of java tea dry leaves should indicate its quality grade; green indicated better quality than brown or black colour. The colour of dry leaves were usually affected by drying method. This research was conducted to determine the effect of drying method to java tea dry leaves quality. Experiment used completely randomized design with one factor of drying method: direct sunlight (P1), room temperature (P2), foging (P3), heat flow (P4), and electrical oven (P5). The subjected observation was physicochemical changing, included organoleptis and flavonoid content determination. The result showed that the dry leaves best performance was achieved by using oven method. But it was not related with the flavonoid content. The highest level (0,88%) of flavonoid content was gained by aired method. The TLC profile presented no differences.

Abstrak

Kumis kucing (Orthosiphon stamineus L.) telah digunakan sebagai salah satu tumbuhan untuk diuretik selama ratusan tahun silam. Warna daun kering kumis kucing menunjukkan kualitas simplisia, warna hijau menunjukkan kualitas yang lebih baik dari warna coklat atau hitam. Warna simplisa daun umumnya dipengaruhi oleh metode pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh metode pengeringan terhadap kualitas simplisia daun kumis kucing. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (CRD) dengan satu
faktor metode pengeringan: cahaya matahari (P1), diangin-anginkan (P2), udara sisa pembakaran (P3), aliran suhu panas (P4) dan oven elektrik (P5). Subyek yang diamati adalah perubahan fisikokimia, termasuk organoleptis dan kandungan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan simplisia daun kumis kucing yang terbaik diperoleh dengan pengeringan menggunakan oven. Hal tersebut tidak berkorelasi dengan kandungan flavonoid. Kandungan flavonoid tertinggi (0,88%) diperoleh dengan pengeringan menggunakan cara dianginanginkan. Profil TLC menunjukkan tidak terdapat perbedaan.


Keywords


kumis kucing (Orthosiphon stamineus L.), metode pengeringan

References


REFERENCES

Anonim. 1980. Materia MedikaIndonesia IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Anonim. 1989. Vademikum Bahan Obat Alam. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Anonim. 1991. Daftar Penggunaan Smplisia Dalam Negeri. Laporan Dirjen POM. Depkes RI. Jakarta

Soedarsono, A. Pudjoarinto, D. Gunawan, S. Wahyuono, L.A. Donatus, M. Dradjad, S. Wibowo, dan Ngatidjan. 1996. Tumbuhan

Obat. PPOT UGM. Jogjakarta.

Varro, ET.1976. Pharmacognosy, edisi ke 7. Lea & Febiger. Philadelphia.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (Journal of  Indonesian Medicinal Plant, p-ISSN : 1979-892X, e-ISSN : 2354-8797) is published by Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Indexed by:

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor number: View My Stats