Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Masyarakat Pasca Pengobatan Dan Pengaruhnya Terhadap Endemisitas Filariasis Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur

Santoso Santoso, Aprioza Yenni, Reni Oktarina, Tri Wurisastuti, Katarina Sri Rahayu

Abstract


Abstract

Lymphatic filariasis (elephantiasis) is a health problem in Indonesia, including in East Tanjung Jabung. Lymphatic filariasis elimination program in Indonesia was done by breaking the chain of transmission of filariasis with mass drug administration (MDA). The effectiveness of MDA program depends on knowledge, attitudes and practice (KAP) of the community. This study aims to determine the KAP towards lymphatic filariasis and evaluate MDA program. The study was conducted in two phases, namely interviews and finger blood survey (FBS). The number of respondents who interviewed were 117 and the number of people who had blood tests as many as 1,209. Interviews result showed that most respondents knew about lymphatic filariasis. The attitude of the majority of respondents showed a positive attitude. Interviews showed that the behavior of people taking medication was high (88%). Based on the results of the proportion of positive FBS, microfilariae were dominants found in people who do not take medication. Although the knowledge of community is high, the East Tanjung Jabung still declared as filariasis-endemic areas because it found the village with a number of microfilaria (Mf rate) of more than 1%.

Keywords: Lymphatic filariasis, KAP, East Tanjung Jabung, endemis


Abstrak

Filariasis (penyakit kaki gajah) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia termasuk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Program eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan dengan pemutusan mata rantai penularan melalui pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis. Keberhasilan program POMP filariasis dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat tentang filariasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui PSP masyarakat terhadap filariasis dan evaluasi kegiatan POMP filariasis. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu wawancara dan survei darah jari (SDJ). Jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 117 orang dan jumlah penduduk yang diperiksa darahnya sebanyak 1.209 orang. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tentang filariasis. Sikap responden sebagian besar menunjukkan sikap positif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku masyarakat minum obat cukup tinggi (88%). Berdasarkan hasil SDJ proporsi penduduk yang positif mikrofilaria paling besar ditemukan pada penduduk yang tidak minum obat. Meskipun pengetahuan masyarakat cukup tinggi, namun Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih dinyatakan sebagai daerah endemis filariasis karena ditemukan desa dengan angka mikrofilaria (mf rate) > 1%.

Kata Kunci: Filariasis, PSP, Tanjung Jabung Timur, endemisitas


Keywords


Lymphatic filariasis, KAP, East Tanjung Jabung, endemis

References


Kementerian Kesehatan. Filariasis di Indonesia. Buletin Jendela Epidemiologi. Jakarta: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi; 2010.

Dinkes Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Laporan Tahunan Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2012. Muara Sabak: Bidang PPPL; 2013.

Kementerian Kesehatan. Pedoman Eliminasi Filariasis di Indonesia. Pedoman Penentuan dan Evaluasi Daerah Endemis Filariasis. Jakarta: Direktorat Jenderal PPPL; 2012.

Departemen Kesehatan. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI, Nomor: 893/MENKES/SK/VIII/2007 tentang Pedoman Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Pengobatan Filariasis. Jakarta: Menteri Kesehatan; 2007.

Nandha B, Sadanandane C, Jambulingam P, Das PK. Delivery Strategy ff Mass Annual Single Dose Dec Administration to Eliminate Lymphatic Filariasis In The Urban Areas Of Pondicherry, South India: 5 Years Of Experience. Filaria Journal. 2007; 6(7) doi:10.1186/1475-2883-6-7. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015. Ditelusuri dari: http://www.filariajournal.com/content/6/1/7.

Lemeshow S, Hosmer DW Jr, Klar J, Lwanga SK. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Penerjemah: Dibyo Purmono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 1997.

Yahya dan Santoso. Studi Endemisitas Filariasis di Wilayah Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Pasca Pengobatan Massal Tahap III. Buletin Penelitian Kesehatan. 2013; 41(1):18-25.

World Health Organization. Lymphatic Filariasis. A Manual for National Elimination Programmmes. Geneva: WHO; 2011.

Hastono SP. Modul Analisis Data. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; 2001.

Wynd S, Carron J, Selve B, Peter A Leggat PA, Melrose W, Durrheim DN, 2007. Qualitative Analysis of The Impact of A Lymphatic Filariasis Elimination Programme Using Mass Drug Administration on Misima Island, Papua New Guinea. Filaria Journal. 2007; 6(1). doi:10.1186/1475-2883-6-1. Diakses pada tanggal: 28 Februari 2013. Ditelusuri dari:http://www.filariajournal.com/content/6/1/1.

Notoatmodjo S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Yogyakarta: Andi Offset; 1993.

Babu BV and Kar SK. Coverage, Compliance And Some Operational Issues of Mass Drug Administration During The Programme To Eliminate Lymphatic Filariasis in Orissa, India. Tropical Medicine and International Health. Blackwell Publishing Ltd. 2004; 9(6):702-9.

Notoatmodjo, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka cipta, 2005.

Santoso, Yanelza Supranelfy. Karakteristik dan Perilaku Masyarakat Berkaitan dengan Filariasis di Kabupaten Muaro Jambi. Jurnal Ekologi Kesehatan, 2013;12(4):286-94.

Juriastuti P., Kartika M., Djaja IM., Susanna D. Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Kelurahan Jati Sampurna. Makara Kesehatan. 2010; 14(1): 31-6.

Santoso, Sitorus H, Oktarina R. Faktor Risiko Filariasis di Kabupaten Muaro Jambi. Buletin Penelitian Kesehatan, 2013;41(3):152-62.

Santoso, Saikhu A, Taviv Y, Yuliani RC, Mayasari R, Supardi. Kepatuhan Masyarakat Terhadap Pengobatan Filariasis di Kabupaten Belitung Timur Tahun 2008. Buletin Penelitian Kesehatan. 2010; 38(4):185-97.

Santoso. Risiko kejadian filariasis pada masyarakat dengan akses pelayanan kesehatan yang sulit. Jurnal Pembangunan Manusia. 2011;5(2):107-15.

Bullar N. and Maikeree J. Challenges In Mass Drug Administration For Treating Lymphatic Filariasis in Papua, Indonesia. Parasites & Vectors 2010, 3:70. Diakses pada tanggal: 10 Januari 2013. Ditelusuri dari: http://www.parasitesandvectors.com/content/3/1/70 .

Weerasooriya MV, Channa T Yahathugoda CT, Wickramasinghe D, Gunawardena KN, Dharmadasa RA, et al. Social Mobilisation, Drug Coverage And Compliance And Adverse Reactions In A Mass Drug Administration (MDA) Programme for the Elimination of Lymphatic Filariasis in Sri Lanka. Filaria Journal. 2007; 6:11 doi:10.1186/1475-2883-6-11. Diakses pada tanggal: 28 Februari 2013. Ditelusuri dari: http://www.filariajournal.com/content/6/1/11.

Molyneux D. Perspectives. Lymphatic Filariasis (Elephantiasis) Elimination: A Public Health Success And Development Opportunity. Filaria Journal. 2003, 2:13. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2013. Ditelusuri dari: http://www.filariajournal.com/content/2/1/13.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



SPIRAKEL (p-ISSN: 2086-1346, e-ISSN: 2354-8819) is published by Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Ministry of Health of Republic of Indonesia

Indexing:

Visitor Number : 

free
web stats
View My Stats

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 Internasional License