HUBUNGAN KETERSEDIAAN TENAGA KEFARMASIAN DENGAN KARAKTERISTIK PUSKESMAS DAN PRAKTIK KEFARMASIAN DI PUSKESMAS

Max Joseph Herman, Sudibyo Supardi, Yuyun Yuniar

HUBUNGAN KETERSEDIAAN TENAGA KEFARMASIAN DENGAN KARAKTERISTIK PUSKESMAS DAN PRAKTIK KEFARMASIAN DI PUSKESMAS

Abstract


Latar belakang: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian menyatakan bahwa tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Berdasarkan pasal 21, pelayanan resep atau penyerahan obat resep dokter di puskesmas, harus dilakukan oleh apoteker. Masalah penelitian adalah belum diketahui kondisi ketersediaan tenaga kefarmasian dalam kaitannya dengan karakteristik dan Praktik kefarmasian di puskesmas. Metode: Studi ini merupakan analisis lanjut data sekunder Riset Fasilitas Kesehatan Tahun 2011 yang menggunakan pendekatan survei (cross-sectional) terhadap puskesmas di kabupaten/kota terkait ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas dan dilakukan pada bulan Agustus–September 2012. Tujuan analisis adalah mendapatkan informasi tentang ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas, ketersediaan tenaga kefarmasian berdasarkan karakteristik puskesmas dan Praktik kefarmasian berdasarkan ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas. Konfirmasi data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Bagian Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota Bogor dan Kota Bekasi serta tenaga kefarmasian pengelola obat di Puskesmas. Pengolahan data dilakukan dengan membandingkan ketersediaan tenaga kefarmasian berdasarkan karakteristik puskesmas dan Praktik kefarmasian berdasarkan ketersediaan tenaga kefarmasian di puskesmas. Analisis data berupa distribusi frekuensi, uji Mann-Whitney, uji Kruskal-Wallis dan uji Kendalls tau b. Hasil: Hasil penelitian analisis lanjut terhadap seluruh puskesmas di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 17,5% puskesmas di Indonesia memiliki apoteker dan ada 32,2% puskesmas yang tidak memiliki tenaga kefarmasian sama sekali. Ada perbedaan ketersediaan tenaga kefarmasian antar puskesmas berdasarkan lokasi puskesmas, jenis puskesmas, keterpencilan wilayah dan status kepegawaian tenaga kefarmasian. Apoteker berperan lebih baik dalam memberikan pelayanan farmasi, mengelola obat dan menyusun LP-LPO dengan lengkap dibandingkan dengan tenaga teknis kefarmasian dan tenaga teknis kefarmasian juga berperan lebih baik dibandingkan dengan tenaga non-farmasi dalam hal yang sama.

Keywords


apoteker; Praktik kefarmasian; puskesmas; tenaga teknis kefarmasian

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Buletin Penelitian Sistem Kesehatan (Bulletin of Health System Research, ISSN 1410-2935. e-ISSN 2354-8738) published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Indexed on:

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/public/site/images/tanto-hsr-man/doaj_cilik_160

Visitor Number : 

shopify traffic stats
View My Stats

Lisensi Creative Commons

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License..