ANALISIS KEBERADAAN BIDAN DESA DAN DUKUN BAYI DI JAWA TIMUR

Mochamad Setyo Pramono, FX. Sri Sadewo

ANALISIS KEBERADAAN BIDAN DESA DAN DUKUN BAYI DI JAWA TIMUR

Abstract


ABSTRACT

Background: The aim of the MDGs improving maternal health, one indicator is the proportion of aid delivery by trained health personnel. Related to this field which is spearheading the village midwife. The presence of the midwife profession not within the vacant land, because the tradition of the existence of traditional birth attendants have been there first. In the geographical and social conditions of a diverse society, where they can be a wealth of cultural treasures. Becomes interesting when the two interests are aligned but different backgrounds met in the field. How their existence in society, especially in rural areas whose traditions are still strong. Methods: This study was conducted in 2011 in four districts in East Java is Sampang, Probolinggo, Jombang and Madison. Refers to the characteristics of the election districts in East Java community is Madura, pandalungan, arek and Mataraman. This study combines quantitative and qualitative research. The data was collected by observation and in-depth interviews, informants were village midwives and traditional birth attendants in each region was selected health centers. Results: There is a dichotomy of senior midwives and midwives young. Senior midwife came mostly from outside the region. While a limited number of wide area coverage, it is not un comm on to make them choose to live in the central districts. As aresuIt, service delivery is limited. Relations senior midwife with pregnant women is quite high. Meanwhile, a young midwife from the local community though, is not necessarily acceptable in the neighborhood. Midwives are considered inexperienced young because young age, unmarried status or newly married. Meanwhile, the role of traditional birth attendants in rural areas is still quite significant, especially in Sampang and Probolinggo, there are still bold to help direct labor. In addition to knowledge of hereditary shamans, also based on modern medical knowledge gained through the course. Suggestion: Patterns midwife partnership with shamans only one way to improve the coverage of deliveries by health personnel. The approach must be done from two sides, which is also in the community. The abilityof midwives to promotive and preventive accordance with the local culture are factors in addition to the factors of education and knowledge in society itself.

Key words: midwives, tradistional birth attendants, East Java

ABSTRAK

Latar Belakang: Tujuan MDGs yang berupa meningkatkan kesehatan ibu, salah satu indikatornya adalah proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan terlatih. Terkait dengan hal tersebut yang menjadi ujung tombak dilapangan adalah bidan desa. Kehadiran profesi bidan bukan berada di dalam lahan yang kosong, karena secara tradisi keberadaan dukun bayi telah ada terlebih dahulu. Pada kondisi geografis dan sosial masyarakat yang beragam, keberadaan mereka bisa menjadi khazanah kekayaan budaya. Menjadi menarik ketika dua kepentingan yang sejalan tetapi berbeda latar belakang ini bertemu di lapangan. Bagaimana eksistensi mereka di masyarakat terutama di perdesaan yang tradisinya masih kuat. Metode: Penelitian ini merupakan gabungan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2011 di empat kabupaten di Jawa Timur yaitu Sampang, Probolinggo, Jombang dan Madiun. Pemilihan kabupaten mengacu pada karakteristik masyarakat di Jawa Timur yaitu Madura, Pandalungan, Arek dan Mataraman. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam, informannya adalah bidan desa dan dukun bayi pada tiap wilayah puskesmas terpilih. Data dianalisis dengan teknik analisis domain, kategorial dan komponensial, sehingga membentuk matriks atau tipologi. Hasil: Terdapat dikotomi bidan senior dan bidan muda. Bidan senior kebanyakan berasal dari luar daerah. Jumlahnya terbatas sementara cakupan wilayah yang luas, tidak jarang membuat mereka memilih tinggal di pusat kecamatan. Akibatnya, pelayanan persalinan menjadi terbatas. Relasi bidan senior dengan ibu hamil cukup tinggi. Sedangkan bidan muda meskipun berasal dari masyarakat setempat, tidak serta merta diterima di lingkungannya. Bidan muda dianggap belum berpengalaman karena muda usia, statusnya yang belum menikah atau baru menikah. Sementara itu, peran dukun bayi di pedesaan masih cukup signifikan terutama di Sampang dan Probolinggo, ada yang masih berani menolong persalinan secara langsung. Pengetahuan dukun disamping dari turun temurun, juga berdasarkan pengetahuan medis modern yang diperoleh lewat kursus. Kesimpulan: Bahwa pola kemitraan bidan dengan dukun hanya salah satu cara untuk meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Pendekatannya harus dilakukan dari dua sisi, yaitu juga pada masyarakat. Kemampuan bidan untuk melakukan promotif dan preventif sesuai dengan kultur setempat menjadi faktor penentu disamping faktor pendidikan dan pengetahuan pada masyarakatnya itu sendiri. Kata Kunci: Bidan, dukun bayi, Jawa Timur

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Buletin Penelitian Sistem Kesehatan (Bulletin of Health System Research, ISSN 1410-2935. e-ISSN 2354-8738) published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Indexed on:

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/public/site/images/tanto-hsr-man/doaj_cilik_160

Visitor Number : 

shopify traffic stats
View My Stats

Lisensi Creative Commons

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License..